Kamis, 18 Desember 2014

Nasib TKW, Sebuah Balada Masyarakat Pantura

...Males temen nasib TKW, maksud ati pengen manggawe
Kanggo mbantu ekonomi keluarga
Mangkat kerja ning Saudi Arabia...
Bli digaji sampe taunan, awak rusak ilang kehormatan

Kaniaya nasibe wong ra duwe, nyawa TKW langka ragane....
Arep njaluk tulung ning sapa, Arabia jagate sapa
Yen wis inget wong ra duwe, rasa ngenes balik bli bisa...

(Cuplikan lagu: Nasib TKW, Ciptaan Papa Irma)

Terjemahan:
Kasihan sekali nasib TKW, maksud hati ingin bekerja
Untuk membantu ekonomi keluarga
Berangkat kerja ke Saudi Arabia...
Tidak digaji sampai tahunan, badan rusak hilang kehormatan

Teraniaya nasib orang miskin, nyawa TKW murah harganya
Mau minta tolong pada siapa, Arabia dunianya siapa
Jika sudah ingat orang miskin, rasa sedih tidak bisa pulang

Kalimat diatas merupakan cuplikan syair dari lagu Tarling yang berjudul "Nasib TKW", yang mana lagu tersebut berkisah tentang duka-lara menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri. Cobalah anda melintasi jalur pantura sepanjang Indramayu hingga Brebes, maka akan banyak anda temui penjual kaset VCD dangdut Cirebonan dengan lirik bertemakan seputar nasib TKI. Karakter musiknya tersusun oleh inkulturasi musik tradisional tarling dan dangdut modern dengan irama menghentak, namun lirik lagunya memaparkan suatu fenomena sosial bertema buruh migran yang sangat mempengaruhi tak hanya masalah kondisi ekonomi, tetapi juga dinamika sosio-kultural masyarakat yang tinggal di pesisir utara Jawa (meliputi: Indramayu-Cirebon-Brebes) tersebut.

Sebagai sebuah teks, lirik lagu tersebut tidak berdiri otonom, akan tetapi dilatari oleh konstruksi kondisi sosio-kultural yang menjadi konteks dari teks tersebut. Stuart Hall, perintis cultural studies dari Birmingham School of Cultural Studies menegaskan bahwa sebuah teks dimaknai dalam tarik-menarik antara proses encoding dan decoding. Dalam proses encoding, kita akan memahami apa latar motivasi pembuat teks dan bagaimana konstruksi sosial kultural yang membentuk teks itu, sementara decoding akan menggiring bagaimana decoder menyusun makna. Dengan demikian, Hall meninggalkan tradisi Gramscian yang melihat pemaknaan teks dalam proses kekuasaan satu arah. Hall melihat bahwa teks hadir sebagai sebuah representasi sosial dan relasi antarkekuasaan.

Dalam hubungannya dengan pembahasan lirik lagu, konteks menjadi salah satu hal terpenting dalam memaknai sebuah lirik. Susan Donley (2001) melihat adanya keterkaitan yang kuat antara syair lagu dan realita sosial. Dia membagi fungsi syair lagu menjadi tiga, yaitu fungsi literatur, fungsi dokumentasi sejarah, dan fungsi dokumentasi sosial. Fungsi literatur menekankan aspek tema dan pesan dalam syair tersebut. Fungsi dokumentasi sejarah melihat aspek tata nilai, kepercayaan, dan peristiwa dalam sebuah kurun waktu tertentu. Sementara fungsi dokumentasi sosial melihat aspek representasi tren, motivasi, dan pengalaman pembuat syair, serta untuk siapa syair itu dibuat.

Dari syair Imagine karya John Lennon, kita bisa memahami bagaimana latar politik Perang Vietnam. Demikian pula Song of Bangladesh yang dinyanyikan oleh Joan Baez bermakna sangat kuat sebagai sebuah deskripsi duka lara terhadap tragedi kemiskinan di Bangladesh. Syair opera-opera Giacomo Puccini pun sangat kental oleh konteks romantisisme aristokrat dan pertentangan kelas masyarakat Eropa abad ke-19. Di balik syair Stasiun Balapan karya Didi Kempot juga tersimpan konteks besar di mana terjadi transisi peran dari perempuan Jawa yang domestik menjadi perempuan yang bepergian ke luar kota. Contoh-contoh di atas hanya ingin menegaskan betapa lirik lagu sangat tidak independen, tetapi saling berkorelasi dengan situasi sejarah aktual.

Berbeda dengan syair lagu Stasiun Balapan, syair-syair lagu rakyat dari Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya di atas punya pesan yang lebih gamblang. Stasiun Balapan hanya bercerita tentang perpisahan seorang laki-laki dan perempuan tanpa kejelasan tujuan kepergian perempuan itu. Ini berbeda sekali dengan lagu-lagu cirebonan di atas. Papa Irma, sang pencipta lagu, dengan sangat jelas menceritakan nasib para TKI lewat lagu Nasib TKW. Kelugasan muncul lewat frase "kanggo mbantu ekonomi keluarga" (untuk membantu ekonomi keluarga). Pemilihan kata ekonomi secara paradigmatis menyajikan pilihan tentang kejujuran sosial yang telanjang. Rasanya sulit sekali menemukan kata ini dalam banyak syair lagu di Indonesia. Padahal, ekonomi menjadi salah satu sumber masalah penting bangsa ini. Syair tentang kisah klasik tidak dibayarnya gaji para TKI karena dirampas para agen di luar negeri juga tidak menyediakan ruang konotasi sama sekali. Lihatlah frase "bli digaji sampe tahunan, awak rusak ilang kehormatan" (tidak digaji sampai bertahun-tahun, badan rusak kehilangan kehormatan). Bukankah frase ini sangat mewakili terhadap kisah-kisah pilu yang mendera para TKI yang pada masa pemerintahan baru ini tetap saja kita dengar?

Beberapa hari lalu kita dengar berita tentang nasib tragis para buruh migran kita, seperti TKW yang jadi korban pembunuhan di Hongkong, Penganiayaan TKW di Malaysia, serta sederet buruh migran yang terjerat kasus tindak pidana berat dan akan menjalani eksekusi mati. Kasus-kasus tersebut terus saja berulang setiap tahun, tanpa adanya upaya dari lembaga-lembaga terkait untuk menyelesaikan persoalan tersebut.  Lantas, dimanakah peran pemerintah untuk melindungi hak-hak warga negaranya yang bekerja di luar negeri? 



0 komentar :

Posting Komentar