Minggu, 28 Desember 2014

Bukit Nirbaya, Tempat Keramat Eksekusi Terpidana Mati

Bukit Nirbaya, sebuat bukit kecil di pulau Nusakambangan ini mendadak populer sejak beberapa tahun silam. Bukan karena keindahan atau panorama alamnya yang membuat bukit ini terkenal seantero Indonesia, namun bukit ini populer sebagai tempat dilangsungkannya eksekusi bagi terpidana mati di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Bukit Nirbaya sudah menjadi semacam bab terakhir kehidupan para terpidana mati di Nusakambangan, siapa yang diantar ke Nirbaya berarti sudah ditunggu regu tembak yang siap mencabut nyawa terpidana. Dua eksekusi mati terjadi pada tahun 1985 dan 1987 terhadap Umar dan Bambang Suswoyo, dua terpidana kasus subversi.

Sesudah mereka masih banyak terpidana lainnya yang bakal tamat di bukit itu. Adapun dua pelaksanaan eksekusi terakhir dilaksanakan pada 26 Juni 2008 terhadap dua terpidana mati kasus narkoba asal Nigeria, Samuel Iwuchukwu Okoye dan Hansen Anthony Nwaolisa. Kemudian menyusul trio bomber Amrozi, Imam Samudera dan Ali Ghufron terpidana mati kasus bom Bali, dieksekusi di bukit itu beberapa tahun silam, tepatnya november 2008. Lalu siapa saja terpidana mati lainnya yang ditembak mati di bukit keramat ini? Menurut data Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, di Nusakambangan ada puluhan narapidana lagi yang menunggu giliran dieksekusi, kebanyakan diantaranya adalah kasus narkoba termasuk warga negara asing. Sisanya kasus pembunuhan dan terorisme. Sebenarnya, tidak semua terpidana mati langsung dieksekusi. Sebagai contoh adalah Bahar Matar. Dia divonis hukuman mati karena kasus pembunuhan. Masuk Nusakambangan sudah sejak 1971. Artinya dia menanti eksekusi selama 37 tahun. Di Nusakambangan dia berkelakuan santun dan baik. Dia pun pasrah saja jika sewaktu-waktu harus berhadapan dengan eksekutor. 
Menurut seorang petugas penjara di Nusakambangan, biasanya eksekusi mati itu dilakukan berdasarkan skala prioritas. Makin buruk kelakuannya makin cepat dia dieksekusi. Contohnya, Rio Alex Bullo alias Rio Martil, terpidana pembunuhan berantai dengan memakai palu. Begitu masuk Nusakambangan dia membunuh lagi, sasarannya teman satu tahanannya. Rio dieksekusi Agustus 2008. 
Menurut salah seorang warga Cilacap yang pernah tinggal di kawasan Nusakambangan, Yoseph, Nirbaya merupakan kawasan perbukitan yang berada sekitar 6 kilometer sebelah selatan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Batu. Di tempat itu, kata dia, pernah berdiri sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang telah ditutup sejak 1986. Posisi Nirbaya, lanjut dia, berada di tengah antara Lapas Terbuka dan Lapas Batu. "Jaraknya dari Dermaga Sodong Nusakambangan sekitar 10 kilometer. Sebagai penunjuk arah, dari arah Sodong sekitar 500 meter menjelang LP Batu, terdapat persimpangan jalan. Untuk menuju Nirbaya, tinggal belok ke kiri," kata Yoseph yang sempat tinggal sekitar 20 tahun di pulau ini karena harus mengikuti orangtuanya yang bertugas sebagai petugas salah satu lapas.

Setelah ditutup pada tahun 1986, menurut dia, bangunan peninggalan Belanda tersebut kini tinggal menyisakan puing-puing. Tembok bangunan yang tersisa, lanjut dia, tertutupi oleh rimbunnya ilalang dan pepohonan liar. Selain itu, kata dia, di sekitar kawasan Nirbaya kini menjadi hutan karet dan kelapa yang justru dimanfaatkan oleh penduduk setempat.



0 komentar :

Posting Komentar