Minggu, 21 Desember 2014

Fenomena Cewek Cabe-Cabean, Sebuah Degradasi Moral Remaja

Jika dahulu kita kenal ada istilah-istilah jablay, kimcil, ataupun ciblek dan masih banyak lagi untuk menyebut konotasi cewek ABG yang bisa diajak 'berkencan'. Kini, di daerah Jakarta ada istilah baru yang sedang nge-trend, yaitu "Cewek Cabe-Cabean". Hah, apa sih "Cewek Cabe-Cabean" itu? Secara harafian "Cabe-Cabean merupakan singkatan dari Cewek ABG Ewean Abang-Abangan. Arti sebenarnya dari istilah Cabe-Cabean sendiri adalah seorang gadis belia atau lazim disebut ABG yang umurnya masih berada di tingkat sekolah SMP atau SMA. Gadis-gadis dengan perawakan hot dan berpakaian seksi itu identik dengan keluyuran malam hari, dunia balap liar dan tempat hiburan malam. Sayangnya, istilah ini tidak merujuk pada sesuatu yang positif, Cabe-Cabean lebih berkesan pada makna berkonotasi negatif. Yah, anda bayangkan saja gaya hidup dari para Cabe-Cabean tersebut ; mabuk-mabukan, perilaku seks bebas, bahkan cewek bayaran, melekat pada istilah gadis yang dijuluki Cabe-Cabean.
Para ABG ini biasanya selalu mengenakan pakaian seksi nan minim, kendati pun cuaca malam hari yang dingin merasuk tubuh. Celana pendek seksi juga seolah menjadi seragam wajib, biasanya batang rokok selalu menemani para ABG cabe-cabean melewati gemerlapnya malam hari hingga matahari terbit di ufuk timur. Dengan maraknya fenomena cewek cabe-cabean mestinya harus menjadi fokus perhatian dari pemerintah, khususnya Pemprov DKI Jakarta. Belum tegasnya peraturan jam belajar bagi para pelajar, membuat fenomena ini menjadi meluas bak wabah. Jika tidak ditindak lanjuti dengan serius, masalah ini bisa saja menghacurkan moral kehidupan bangsa.
Seperti pengakuan dari teman saya yang hobby mengkuti balapan liar di daerah Jakarta, istilah Cabe-cabean sudah memiliki relationship yang kuat dengan para pembalap liar di daerah Kembangan, Jakarta Barat, mereka dijadikan sebagai barang taruhan. 

“Taruhannya cewek-cewek cabe-cabean gitu, yang kalah nyiapin cewek untuk yang menang,” tutur Andre yang biasa menonton balap liar di Jalan Taman Aries, Jakbar.

Dia juga tidak menampik bahwa selain uang, wanita juga menjadi taruhan para remaja yang kerap melakukan aksi balap liar di jalan.
Faktor Penyebab Munculnya Gadis Cabe-Cabean
Banyak faktor yang menyebabkan fenomena ini muncul. Setidaknya ada tiga faktor utama yang memiliki andil pada kasus ini.

Pertama, faktor media. Tak dapat disangkal, tayangan di televisi tidak banyak memberikan tuntunan yang mendidik dan membangun. Terutama pada segmen remaja, kehidupan mewah para pemaninnya, gaya hidup yang diperlihatkan dalam sinetron-sinetron atau drama impor sedikit banyak mempengaruhi remaja kita untuk menirunya. Lihat saja bagaimana cara berpakaian dan gaya hidup mereka dijiplak habis oleh remaja putri dalam komunitas cabe-cabean ini.

Kedua adalah faktor keluarga, dalam hal ini adalah orang tua. Pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak tidak boleh lepas begitu saja. Kebutuhan seorang anak tidak hanya sekedar materi namun juga kasih sayang dan perhatian. Salah satu mengapa fenomena ini muncul adalah banyaknya remaja-remaja broken home yang mencari pelampiasan dengan cara-cara negatif.

Ketiga, faktor lingkungan. Lingkungan terdekat dari remaja adalah sekolah dan teman-teman bergaulnya.
Kita semua sepakat bahwa fenomena ini perlu mendapatkan perhatian. Tak ada yang menginginkan generasi muda Indonesia menjadi generasi yang hidupnya sia-sia. Di sisi lain masa remaja menyimpan potensi yang sangat besar untuk character building di usia dewasa. 

Solusi Pencegahan Munculnya "Cabe-Cabean"
        Pertama, peran keluarga. Dari keluargalah penanaman nilai-nilai agama dimulai. Anak-anak disadarkan bahwa dia diciptakan di dunia ini dengan tujuan khusus, yakni taqwa. Orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.
        Kedua, lingkungan. Masyarakat perlu ikut andil dalam menjaga lingkungan sekitarnya dari hal-hal semacam ini. Sikap individualis dan cuek harus dibuang jauh-jauh. Tindakkan amar ma’ruf nahyi mungkar tak boleh disepelekan. 
        Ketiga, peran negara. Perlu ada regulasi atau kebijakan yang menjaga remaja kita. Dari mulai siaran media, lingkungan, pendidikan, dsb.

Jangan sampai kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut. Tentunya gadis-gadis bau kencur yang masih memiliki masa depan nan panjang ini harusnya duduk manis menimba ilmu, bukannya harus kelayaban saban malam dan dekat dengan dunia alkohol ataupun pergaulan bebas. Harus ada sinergi antara pengawasan orang tua di lingkungan rumah, pendidik (guru di sekolah), dan pemerintah setempat untuk meminimalisir munculnya fenomena cabe cabean ini, karena masa depan bangsa ini ada pada tangan mereka. Ironi memang di negeri kita ini, degradasi moral terus saja terjadi di berbagai sendi kehidupan.



0 komentar :

Posting Komentar