Minggu, 11 Januari 2015

Minim Perhatian Pemda, Wacana Pemekaran Wilayah Brebes Selatan Kembali Menyeruak

Lebih dari 4 dekade impian untuk memekarkan diri wilayah Brebes Selatan banyak menemui aral rintangan dan jalan buntu, puncaknya di awal millenium tahun 2000 wacana tersebut menyeruak. Walaupun UU pemekaran seyogyanya bisa saja meloloskan, sebaab syarat mekarnya sebuah wilayah kabupaten cuma membutuhkan dukungan minimal 5 kecamatan. Kebetulan Brebes Selatan, kini didukung oleh enam kecamatan yaitu kecamatan Salem, Bantarkawung, Paguyangan, Bumiayu, Sirampog dan Tonjong siap memuluskan jalan pemekaran wilayah. Namun, upaya ini selalu menemui kendala yang datang silih berganti. Salah satu yang jadi pemicu mengapa wilayah Brebes bagian selatan ingin menjadi kabupaten sendiri adalah minimnya perhatian Brebes pusat pada masalah infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. 
Ruas jalan rusak Kaliwadas penghubung Salem-Bumiayu

Lihat saja insfratruktur di daerah ini, jalanan layak adalah suatu barang langka. Hanya jalur nasional yang melintang dari Brebes ke Purwokerto yang relatif mulus, sisanya adalah jalanan yang siap-siap membuat pengemudi jlag-jlig-jlug yang membuat badan sakit jika melintas. Jalur Bumiayu-Salem yang setiap harinya digunakan oleh warga Salem dan Bantarkawung untuk melakukan aktivitas ekonomi di Bumiayu adalah jalur rombengan. Jalur ini paling lama bertahan setahun saja kemulusannya akibat padatnya volume kendaraan yang berbanding terbalik dengan kualitas jalan. Belum lagi truk-truk besar pembawa getah dan kayu pinus yang hilir-mudik mengangkut hasil gunung di Salem dan Bantarkawung untuk kemudian dibawa ke wilayah utara Brebes. Masih kurang melihat derita warga daerah Brebes Selatan? Maka sekali-kali bawalah motor Kawasaki KLX dan perbekalan secukupnya untuk menjelajah wilayah tersebut. Tengoklah daerah-daerah pedesaan yang berbatasan dengan daerah Majenang, Cilacap di Kecamatan Bantarkawung. Jika kurang puas naiklah ke arah yang paling barat di Kecamatan Salem. Disana peran pemerintah daerah Brebes nyaris nol.
 Peta konsep wilayah kabupaten Brebes Selatan

Itu jika hanya melihak dari sektor infrastuktur saja. Fasilitas kesehatan tentu tak jauh berbeda buruknya. Dokter adalah sosok langka di pelosok Brebes Selatan, hanya ada Pak mantri dan Bu bidan yang akhirnya bertugas menjelma menjadi dokter. Urusan melahirkan, ada dukun beranak yang biasa disebut "paraji" siap membantu. Jika sakit parah, Puskesmas Bantarkawung bolehlah jadi rujukan buat warga miskin. Tapi karena fasilitas yang minim, maka rumah sakit swasta yang berlokasi di Bumiayu pun jadi tumpuan. Sayangnya biaya yang begitu mahal membuat warga lebih banyak pergi ke dukun / paranormal atau bahkan cuma bisa mengelus dada dan berdoa pada Yang Maha Kuasa.

Selain rasa sakit hati dianaktirikan, apa lagi yang bisa dibanggakan Brebes Selatan? Pada tahun 2005 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Brebes bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM-ITB) pernah mengadakan penelitian terkait kondisi SDA yang terkandung di daerah SWP III ini, secara mengejutkan hasilnya di daerah ini terkandung banyak potensi SDA, mulai dari batu bara, batu apung, tanah liat, dan pasir-batu (sirtu), bahkan minyak bumi sempat terdekteksi meskipun hasilnya dibawah ekspektasi. Pertanian tentu menyumbang penghasilan tak sedikit karena memang kegiatan itulah yang saat ini paling banyak dilakukan warga Brebes Selatan. Perkebunan juga tak sedikit meski hampir semuanya dikelola perum Perhutani. Lihat saja deretan bukit yang dipenuhi hutan pinus atau jati. Tengok juga perkebunan teh yang menghampar hijau di selatan Bumiayu.

Cuma segitu saja potensinya? Ya, PAD daerah ini sendiri tergolong kecil. Pada tahun 2002-2003 tercatat hanya 4,5 Milyar yang bisa dihasilkan daerah ini. Kini, angka 10 Milyar konon sudah bisa direguk area Brebes Selatan. Jika PAD cuma segitu, naga-naganya pemerintahan baru jika terbentuk amat tergantung pada Dana Abadi Umat yang bisa mencapai 100 Milyar. Pada masa pemerintahan Bupati Indra hendak berkuasa, Brebes Selatan mulai dielus agar ia duduk dengan mulus. Sayang, penerusnya cuma datang dan memberi janji saat kampanye. Sampai kapan lagi warga Brebes Selatan menunggu diperhatikan Pemda, wilayah lain sudah mengecap manisnya pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. Ah, mungkin cuma angan-angan saja!

0 komentar :

Posting Komentar