Peluang pasar dari booming smartphone dan tablet pc terlepas dari genggaman intel. raksasa semikonduktor ini pun berbenah dan mencoba bangkit dengan roadmap lengkap prosesor terbaru di dunia mobile. Kini, Intel punya kompetitor baru yaitu Qualcomm yang sukses dengan System on Chip (SoC) semata wayangnya, seri Snapdragon S4. Harga sahamnya pun sudah mengungguli Intel di tahun 2012. Intel yang cukup lama mendominasi prosesor PC di seluruh dunia tampaknya "tertidur" di era mobile saat ini karena nyaris absen dengan prosesor andalan untuk smartphone dan tablet PC. Selain Intel, Microsoft dan Nokia juga terkena dampak tren saat ini. Apabila Microsoft dan Nokia membentuk suatu aliansi, Intel masih "pede" berjuang sendiri. Keyakinan Intel terlihat dari roadmap prosesor mendatangnya (lihat gambar di sebelah kanan) yang juga mengadopsi tren mobile.


Intel Vs ARM: Berbeda Model Bisnis
Kiprah Intel di smartphone dan tablet tidaklah semulus di notebook. Intel sebenarnya memiliki CPU untuk platform ini, yaitu Clover Trail. Namun prosesor ini kalah pamor dibandingkan prosesor jenis ARM karena kurang direspon produsen smartphone. Misalnya oleh Motorola (RAZR I), LAVA (XOLO X900), atau Acer (Liquid C1). Padahal, peluang laba besar dari smartphone sangatlah besar di masa mendatang (lihat gambar). Prosesor ARM lebih dominan di smartphone bukan hanya karena lebih irit daya. Pengembangnya, ARM Limited memberi lisensi kepada berbagai produsen untuk memproduksi chip sendiri. Misalnya, Qualcomm dengan snapdragon S4. Menurut Krisztian Flautner (kepala riset ARM), kelebihan mereka bukanlah pada produk, melainkan model bisnis. Mereka memberikan kesempatan bagi berbagai produsen chip untuk bersaing langsung dengan Intel. Model bisnis ini memang tak lazim, tetapi juga tidak mengekang inovasi chip baru. Bay Trail sebagai prosesor Atom penerus Clover-Trail, akan memiliki 4 core dengan clock 2,4 GHz dan diproduksi dengan proses produksi 22 nm. Prosesor mobile ini cukup menjanjikan karena diklaim Intel bisa bekerja selama 11 jam (stand-by 20 hari). Sebagai perbandingan, prosesor ARM untuk smartphone atau tablet nVidia Tegra 3 (4+1 core) dengan clock 1,5 GHz hanya bisa digunakan selama kurang lebih 7 jam.
Hingga kini, Intel belum mendapat produsen tablet kelas kakap yang ingin memakai prosesor/SoC Atom-nya (Clover Trail atau Bay Trail). Apple sebagai produsen yang berani membuat terobosan mungkin bisa menjadi "penyelamat" Intel. Kabarnya, mereka berniat memakai SoC Intel untuk iPad generasi mendatang. Saat ini, Apple masih memakai SoC sendiri yang diproduksi Samsung. Lantaran perang paten diantara keduanya, Samsung mengancam akan menaikkan harga SoC. Para analis pun berspekulasi, Apple akan mengganti pemasok S0C-nya. Apabila kesepakatan terjadi, Intel bakal membuat SoC ARM untuk iPhone dan SoC Atom untuk iPad. Artinya, Intel mulai menginjakkan kakinya di bisnis tablet. Selama ini, kerja sama antara Intel dan Apple akur-akur saja, misalnya MacBook dengan prosesor Intel dan kerjasama pengembangan interface Thunderbolt.
Keberhasilan Intel di sektor mobile CPU sangatlah penting. Kalau tidak, core business-nya di segmen enterprise terancam. Beberapa bulan lalu, Flautner telah menyampaikan solusi ARM yang lebih efisien dibandingkan Intel untuk arsitektur server data center. Respon positif pun datang dari pengelola data center besar, seperti Google atau Facebook. Ini cukup beralasan karena walau setiap chip hanya lebih hemat beberapa watt, skala penghematannya akan sangat besar untuk ratusan ribu CPU.
0 komentar :
Posting Komentar