PT PAL Masuki Masa Pra-Produksi Kapal Selam Scorpene Evolved

Posted by Aizen Sosuke on Jumat, 10 Juli 2026

Kapal Selam Scorpene Evolved Submarine

Setelah beberapa tahun silam Indonesia berhasil membangun kapal selam kelas Changbogo, di tahun 2026 ini melalui PT. PAL Indonesia akan memulai percepatan jadwal first cutting (pemotongan baja pertama) kapal selam Scorpene Evolved, tentunya dilakukan di galangan kapal PT PAL. Hal ini merupakan tonggak bersejarah dan teramat penting dalam perjalanan menuju kemandirian industri alutsista nasional. Kemampuan para insinyur Indonesia dalam membangun kapal selam tidak diragukan lagi. 

Melalui kesuksesan dalam menyelesaikan Qualification Section, PT PAL Indonesia bekerjasama dengan Naval Group Perancis menegaskan bahwa transfer teknologi pada Program Kapal Selam Scorpene Republik Indonesia (SRI) telah berjalan efektif dan menghasilkan peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) nasional sesuai standar manufaktur kapal selam kelas dunia. Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting bagi dimulainya tahapan pembangunan fisik kapal selam pertama Scorpene di Indonesia melalui agenda First Steel Cutting yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Juli tahun 2026 di dok PT PAL Indonesia.

Direktur Produksi PT PAL Indonesia, Diana Rosa, menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari terbangunnya sebuah kapal selam, namun dari kapabilitas bangsa Indonesia dalam menguasai teknologi strategis berteknologi tinggi yang selama ini hanya dimiliki segelintir negara saja. Rosa menyampaikan bahwa tujuan utama program ini bukan semata membuat kapal selam, tetapi juga menjadi sarana guna meningkatkan kompetensi teknis dari para insinyur Indonesia, memperkuat industri pertahanan nasional, dan menyiapkan ekosistem pertahanan yang semakin mandiri. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sumber daya manusia adalah aset paling strategis yang akan menentukan daya saing industri pertahanan Indonesia di masa mendatang.

Sebagai bagian dari proses transfer teknologi, puluhan insinyur PT PAL Indonesia telah menjalani pelatihan intensif di fasilitas produksi Naval Group, Perancis, yang mana mencakup berbagai disiplin mulai dari pengelasan, rekayasa konstruksi, sistem mekanikal, sistem kelistrikan hingga quality control (QC). Kompetensi tersebut kemudian diterapkan secara langsung dalam pelaksanaan Qualification Section yang menjadi prasyarat dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene. Melalui proses tersebut, para Insinyur Indonesia tidak hanya mempelajari teknologi mutakhir tingkat tinggi, tetapi juga membuktikan kemampuannya dalam mengimplementasikan standar kualitas global pada setiap tahapan produksi.

Proses Pengujian Kapal Selam di Galangan PT PAL

Program Director Naval Group, Vincent Vimont, menyampaikan bahwa pencapaian ini memperlihatkan kesiapan PT PAL Indonesia sebagai mitra strategis dalam pembangunan kapal selam modern. Vincent menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar membangun dua unit kapal selam, tetapi juga membangun fondasi industri alutsista nasional yang berkesinambungan. Menurutnya, alih teknologi, pengembangan kompetensi insinyur Indonesia, serta keterlibatan PT PAL dalam keseluruhan proses produksi menjadi bukti nyata bahwa Indonesia semakin siap menguasai teknologi strategis dan memperkuat kemandirian industri pertahanan dalam negerinya.

Program pembangunan dua unit Kapal Selam Scorpene merupakan kelanjutan dari pengembangan kapabilitas industri kapal selam nasional yang telah dibangun PT PAL Indonesia selama lebih dari satu dekade. Proyek Scorpene diarahkan untuk meningkatkan kemampuan hingga pembangunan kapal selam secara utuh (whole local production) dengan dukungan transfer teknologi dari Naval Group.

Sebagai negara kepulauan yang pertama kali memilih varian paling mutakhir ini, Indonesia diuntungkan oleh spesifikasi teknis superior yang diusung oleh Scorpene Evolved. Kapal selam serang berperforma tinggi ini dirancang dengan panjang keseluruhan 72 meter dan memiliki bobot perpindahan di permukaan antara 1.600 hingga 2.000 ton. Ditenagai oleh sistem propulsi modern, kapal selam ini mampu melaju dengan kecepatan terendam melebihi 20 knot dan dapat menyelam hingga kedalaman operasional lebih dari 300 meter.

Dengan kapasitas akomodasi untuk 31 kru, Scorpene Evolved menawarkan otonomi operasional yang luar biasa di laut, yakni mencapai lebih dari 78 hari dalam total misi 80 hari, menjadikannya platform pertahanan samudra sekaligus perairan dangkal yang sangat ideal untuk karakteristik geografis Indonesia.

Persenjataan Kapal Selam Scorpene Evolved

Keunggulan utama yang menjadikan Indonesia pionir dalam penggunaan varian ini adalah integrasi sistem energi mutakhir berupa Full Lithium-Ion Battery (LiB). Penggunaan teknologi baterai litium-ion berkapasitas tinggi ini memberikan densitas energi dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan teknologi baterai konvensional, sehingga mampu mendongkrak durasi penyelaman taktis kapal hingga 50 persen atau bertahan di bawah air selama lebih dari 12 hari tanpa interupsi.

Kehadiran teknologi LiB juga memberikan kemampuan pengisian daya yang sangat cepat (fast charging), memperpanjang siklus hidup operasional baterai hingga lebih dari 3.000 siklus, serta menekan tingkat kebisingan akustik ke level terendah. Ditambah dengan tingkat indiscretion rate yang hanya sebesar 4,5%, kapal selam ini menjadi sangat sulit dideteksi oleh sensor musuh saat melakukan pengisian daya di dekat permukaan.

Dari sektor perbandingan taktis dan persenjataan, kapal selam Scorpene Evolved dilengkapi dengan sistem manajemen tempur generasi terbaru bernama SUBTICS (Submarines Tactical Integrated Combat System) yang mengintegrasikan seluruh sensor non-akustik dan sistem komunikasi secara seamless. Untuk daya gempur, kapal selam ini dibekali dengan 6 tabung peluncur yang mampu membawa total muatan hingga 18 senjata berat.

Indonesia memastikan bahwa kedua unit kapal selam ini sejak awal dikonfigurasi untuk memiliki kemampuan peluncuran rudal antikapal dari bawah air, yaitu MBDA SM39 Exocet, selain kemampuan utama meluncurkan torpedo kelas berat seperti Black Shark atau F21, serta menggelar operasi ranjau laut. Kombinasi eksklusif antara daya tahan selam baterai litium-ion, kecanggihan sistem radar dan sonar, serta daya hancur rudal SM39 Exocet inilah yang memosisikan Scorpene Evolved milik TNI AL sebagai salah satu aset bawah air paling mematikan dan modern di kawasan Indo Pasifik.

Newest
You are reading the newest post

Related Posts

23.16

0 komentar:

Posting Komentar