Selasa, 16 Desember 2014

Jogja Undercover: Menguak Prostitusi Terselubung Di Kota Gudeg

Sebuah ironi sebagai kota pelajar, lifestyle ataukah memang tuntutan ekonomi yang makin hari makin bertambah berat. Sebuah bisnis yang nggak ada matinya meskipun dengan fatwa-fatwa lembaga keagamaan ataupun cibiran yang tidak mengenakkan dan hukuman moral dari masyarakat yang suci atau pura-pura suci. Yogyakarta, sebuah provinsi istimewa sebagai kota budaya dan kota pelajar, banyak hal menarik yang dapat ditelusuri di kota ini, dibahas, didiskusikan ataupun dinikmati. Namun, jika ditelisik lebih lanjut, Jogja juga mempunyai kehidupan yang hitam, yang kelam & kejam. Berbicara tentang kenikmatan duniawi yang katanya haram, Kota Jogja memiliki banyak tempat yang dapat mewujudkan fantasi nakal seperti itu. 

Bagi mahasiswa-mahasiswa yang kebetulan terlahir sebagai anak dari orang tua yang 'berada', tempat-tempat hiburan malam menjadi tempat untuk melampiaskan segala macam penat. Atau mungkin hanya untuk mencari gengsi yang semakin dibutuhkan dewasa ini. Lalu apa yang hendak dicari? Menurut pengalaman saya pribadi, dugem, mabok dan joget bukan merupakan tujuan utama mereka, namun yang menjadi tujuan sebenarnya adalah seks. Yup guys, itulah yang dicari mereka. Dengan bermodal jutaan rupiah, saat berada di dalam cafe, dengan memesan 'minuman mahal' istilahnya open bot, niscaya cewek-cewek cakep & seksi akan menghampiri meja kita. Tak peduli gimanapun tampang si pemesan. Maaf-maaf saja nih gan, tapi memang kenyataannya rata-rata cewek-cewek kuliahan yang ada di Jogja mencari tipe cowok-cowok gaul yang dompetnya tebal. Tidak semuanya sih, tapi bisa saya asumsikan mencapai 80%. Masih perawan? Anda pun bisa menebaknya sendiri lah. 
Bisnis esek-esek yang semakin menjamu di kota Gudeg ini dimulai dari Sarkem alias Pasar Kembang, yang notabene adalah tempat prostitusi. Siapa sih yang gak tahu komplek lokalisasi PSK terbesar di Jogja ini? Entah legal ataupun tidak, namun nyatanya Sarkem telah menjadi ikon kota Yogyakarta selain Malioboro dan Tugu. Lokasi yang strategis yaitu dekat dengan stasiun Tugu dan Malioboro membuat tempat ini semakin ramai dikunjungi, terutama oleh para pelajar yang ingin melepaskan hasratnya, atau suami-suami yang mungkin kurang terpuaskan oleh istrinya. Sarkem tidak lain adalah merupakan singkatan dari sebuah nama jalan. Jalan pasar kembang. Entah mengapa namanya seperti itu, setahu saya, tidak ada satupun penjual kembang yang mangkal di sana. Harga yang ditawarkan dari para 'penjaja cinta' Sarkem sangat bervariasi. Mulai dari 80 ribu hinggga 250 ribu. Mulai dari yang baru lulus SMA sampai yang maaf, sudah hampir menopause. Para pegawai ini biasanya nongkrong di dalam sebuah gang berlambangkan kupu-kupu, dengan menyewa kamar-kamar yang memang sengaja di sewakan oleh pemilik rumah-rumah yang ada di dalam gang tersebut.
Selain Sarkem yang memang sudah sangat famous, Jogja juga masih banyak memiliki tempat prostitusi yang terselubung. Kali ini saya akan coba mengulas tentang prostitusi yang berkedok salon kecantikan. Ada puluhan salon yang tersebar di daerah Jogja, Mulai dari sepanjang ringroad Utara Jogja (daerah Maguwoharjo) dari arah bandara menuju ke barat, Jalan kaliurang, Salon depan UPN Condong Catur, Jalan Monjali, Tentara Pelajar, Jalan Kabupaten, Wonosari, Jalan Solo dan mungkin masih banyak lagi yang belum tersentuh. Mereka menggunakan salon sebagai kamuflase untuk menawarkan pelayanan sex yang menggiurkan. Salon-salon seperti ini sangat mudah untuk diketahui, biasanya mereka memajang spanduk bertuliskan, perawatan tubuh dan kecantikan. Ketika masuk, kita hanya perlu bilang ingin massage. Memang, di dalam bilik-bilik yang telah disediakan di dalam salon, kita akan di berikan pijatan-pijatan yang tidak biasa. "Mau pijit biasa atau yang plus-plus Mas?". Biasanya mereka akan bertanya seperti itu. Kita tinggal memilih saja. "Kalau karaoke 80 ribu-100 ribu Mas. Kalu maen 150 ribu-300 ribu sekali maen." Sekali lagi, semua tergantung pilihan kita sendiri. Jika sarkem biasa memulai aktivitasnya sejak matahari terbenam, salon plus-plus biasanya memulai aktivitas dari pagi hingga petang. 
Ada lagi yang menawarkan diri melalui iklan baris di koran. Coba saja Anda baca koran lokal kolom iklan, coba Anda cari iklan-iklan pengobatan. "Anda ingin rilex, capek2, pegel2?segera hubungi Ratih 08577756XXX, dijamin anda akan puas dan tidak menyesal, bisa ditempat/dipanggil." Seperti itulah kiranya iklan yang terpampang di koran. Jika melihat seperti ini, siapakah yang hendak kita salahkan? Atau apakah ini memang salah? Apa tidak ada pekerjaan yang lain? Atau memang tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh mereka? Tingkat pendidikan yang rendah, trauma masa lalu, gaya hidup atau tuntutan ekonomi? Haram ataukah halal, sangat tipis sekat yang membedakan di antara semua itu.



0 komentar :

Posting Komentar